Peranan Pihak Berkepentingan dalam Melaksanakan Konsep Cultural Resource Management untuk Pengurusan Warisan Ketara di Kota Banda Aceh, Aceh, Indonesia
(The Role Of Stakeholders In Implementing The Concept Of Cultural Resource Management For Tangible Heritage Management In Kota Banda Aceh, Aceh, Indonesia)
DOI:
https://doi.org/10.32890/ahjmm2024.2.3Keywords:
Kota Banda Aceh, pengurusan warisan ketara, pihak berkepentingan, perananAbstract
Warisan ketara merupakan kajian daripada arkeologi berupa monumen, kumpulan bangunan, dan tapak karya manusia serta gabungan kerja manusia dengan sumber semula jadi. Pelaksanaan pengurusan warisan ketara merupakan usaha yang dilakukan oleh individu atau kelompok. Dalam melaksanakan pengurusan warisan ketara harus tetap mempertahankan prinsip keaslian daripada bendanya. Walau bagaimanapun, pengurusan warisan ketara di Kota Banda Aceh mengalami polemik di kalangan pihak yang berkepentingan. Oleh itu, artikel ini adalah hasil kajian yang dijalankan untuk melakukan identifikasi terhadap pihak yang berkepentingan dalam pengurusan warisan ketara di Kota Banda Aceh. Data artikel diperoleh melalui temu bual dan kajian kepustakaan. Artikel ini dijumpai empat kelompok pihak berkepentingan. Pertama pemerintah melalui lembaga terkait. Lembaga tersebut memiliki perkhidmatan pengurusan warisan ketara dan terlibat dalam pengurusannya namun ada perbezaan pandangan pada pelaksanaannya. Kedua, organisasi masyarakat iaitu kelompok masyarakat yang membina lembaga dan tidak berada di bawah pemerintah. Organisasi tersebut turut melakukan pengurusan dengan alasan ingin menyelamatkan warisan ketara dari kerosakan. Ketiga, kelompok akademik yang hanya melakukan kajian dan penyelidikan terkait dengan keilmuan dan juga turut memberikan cadangan kepada pihak yang berkepentingan agar selari dengan konsep pelestarian. Keempat adalah masyarakat tempatan dan juga ahli waris daripada objek warisan ketara. Keempat kelompok tersebut terlibat dalam pengurusan warisan ketara di Kota Banda Aceh. Akhir sekali bahawa kajian ini mendapati adanya perbezaan pandangan dan cara melakukan pengurusan warisan ketara pada masing-masing kelompok. Pengurusan yang dilakukan masih hanya terhad pada perlindungan dan pemanfaatan sahaja belum kepada tahap pengembangan yang menghasilkan ekonomi bagi masyarakat ramai.
ABSTRACT
Tangible heritage is the study of archeology in the form of monuments, groups of buildings, and sites of human works and the combination of human works with natural resources. The implementation of tangible cultural resource management is an effort carried out by individuals or groups. In carrying out the concept of managing significant heritage, one must maintain the principle of authenticity of the object. However, the management of significant heritage at Kota Banda Aceh has experienced polemics among interested parties. Therefore, this study was carried out to identify parties interested in managing significant heritage at Kota Banda Aceh. Article data was obtained through interviews and literature review. In this study, four groups of interested parties. First, the government through related institutions. These institutions have significant heritage management services and are involved in its management but there are different views on its implementation. Second, community organizations are community groups that develop institutions and are not under the government. The organization took part in the management because it wanted to save significant heritage from damage. Third, academic groups that only carry out studies and investigations related to science and also provide recommendations to interested parties so that they are in line with the concept of conservation. Fourth are local people and also the heirs of significant heritage objects. These four groups are involved in the management of significant heritage at Banda Aceh City. Finally, this study found that there were significant differences in views and ways of managing heritage in each group. The management carried out is still limited to protection and utilization, not yet at the development stage which produces economic benefits for the general public.
References
Bambang Sulistyanto. (2014). Konflik Horisontal Warisan Budaya, Megalitik Situs Gunung Padang, AMERTA, 32(1). doi: 10.24832/amt.v32i1.384.
Daud Aris Tanudirdjo. (2004). ‘Penetapan Nilai Penting dalam Pengelolaan Benda Cagar Budaya’, Makalah disampaikan dalam Rapat Penyusunan Standarisasi Kriteria (Pembobotan) Bangunan Benda Cagar Budaya di Rumah Joglo Rempoa, Ciputat, Jakarta, Tanggal 26-28 Mei 2004.
Daud Aris Tanudirjo. (2003). ‘Warisan Ketara untuk Semua: Arah Kebijakan Pengelolaan Warisan Ketara’, Artikel, disampaikan pada Kongres Kebudayaan V di Bukit Tinggi.
De la Torre, M. (2003). Cultures of development and indigenous knowledge: The erosion of traditional boundaries. In Africa Today (Vol. 50, Issue 2). https://doi.org/10.2979/aft.2003.50.2.66.
FGD (2022). Forum Group Discussion (FGD) antara LSM, Kerajaan dan TACB tentang Pemindahan dan Penimbunan Kubur.
García-Hernández, M., De la Calle-Vaquero, M., & Yubero, C. (2017). Cultural heritage and urban tourism: Historic city centres under pressure. Sustainability, 9(8), 1346
Geoffrey Red dan Katrinka Ebber (2000) Post-Earthquake Reconstruction and Urban Heritage Conservation in Lijiang dalam Ismail Serageldin, Ephim Shulger dan Joan Martin Brown (Eds.), Historic Cities and Sacred Cities Cultures Roots for Urban Futures, Washington D.C.: The World Bank.
Hendra Wijayanto. (2018). Strategi Pengelolaan Kampung Wisata Baluwarti sebagai Destinasi Wisata Budaya di Kota Surakarta. Prosiding Slamet Riyadi Conference on Public Administration (SRIPA). Surakarta.
Holtorf, C., & Högberg, A. (2015). Contemporary heritage and the future. The Palgrave Handbook of Contemporary Heritage …. https://doi.org/10.1057/9781137293565_32.
I Wayan Suantika. (2012). Pengelolaan Sumberdaya Arkeologi. Forum Arkeologi, 25(3), 185-205. doi: http://dx.doi.org/10.24832/fa.v25i3.603.
Israul Hasanah, Hera Susanti, Riyanto and Hapsari Setyowardhani (2018). Heritage Tourism Development: Concept of Community-based Tourism in Megalithic Site of Gunung Padang. Proceedings of the 1st Unimed International Conference on Economics Education and Social Science (UNICEES), 460-465. doi: 10.5220/0009502004600465.
Jelinčić, D.A.; Šveb, M. (2021). Financial Sustainability of Cultural Heritage: A Review of Crowdfunding in Europe. J. Risk Financial Management 14, 101. https://doi.org/10.3390/jrfm14030101 Kamal Usandi (Ed.) (Feb 5, 2017). DPRA Minta Men-PUPR Hentikan Proyek IPAL di Pande. Gonews.co. https://www.acehinfo.id/pemerintah-lanjutkan-proyek-ipal-di-kawasan-situs-gampong-pande/, (diakses pada 3 Mac 2022). Laporan Kepala Bagian Kebudayaan pada Perkhidmatan Pendidikan dan Kebudayaan Kota Banda Aceh tentang Pemindahan Makam Purba oleh Masyarakat tanpa Izin daripada Wali Kota, 17 Ogos 2022. Laporan pemerhatian penyelidik bersama Tim Tenaga Ahli Cagar Budaya (BPCB) dan Pengetua Bidang Kebudayaan Disdikbud Kota Banda Aceh, 8 Jun 2021. Laporan Pengetua Bagian Kebudayaan pada Perkhidmatan Pendidikan dan Kebudayaan Kota Banda Aceh tentang Penggalian struktur tembok dan makan purba tanpa izin daripada Wali kota, 5 Ogos 2022. Laporan Perkhidmatan Bidang Kebudayaan tentang Penggalian Haram, 2022. Laporan TACB Kota Banda Aceh tentang Kesalahan dalam Mengecat Makam Purba, 17 November 2022.
Laretna T. Adishakti. (2004). Tantangan dan Peluang Ekonomi dalam Pelestarian Pusaka: Yogyakarta Pusaka Dunia. Disampaikan dalam Diskusi Panel: Pelestarian Pusaka dan Pembangunan Ekonomi.
Laretna T. Adishakti. (2016). “Paper for the Second OWHC Asia-Pacific Regional Conference for World Heritage Cities in collaboration with UNESCO Bangkok office, at Gyeongju, Republic of Korea, 5-7 October”. Artikel. 2016.
Majelis Permusyawaratan Ulama. (2020). Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh Nombor 5 Tahun 2020 tentang Pemeliharaan Tapak Sejarah dan Cagar Budaya dalam Perspektif Syariat Islam.
Mason, R., & de la Torre, M. (2002). Assessing the values of cultural heritage. Assessing values in conservation planning: Methodological issues and choices. Los Angeles: The Getty Conservation Institute.
McManamon, F. P. dan Hatton, A. (Eds.) (2000). Cultural Resource Management in Contemporary Society Perspectives on Managing and Presenting the Past. New York: Routledge
Mehmet Ozay (2020). Sejarawan Turki Mehmet Ozay: Kasus Gampong Pande Pukulan bagi Warisan Sejarah dan Budaya di Aceh, 2 Oktober 2020, SERUNEE. https://portalsatu.com/sejarawan-turki-mehmet-ozay-kasus-gampong-pande-pukulan-bagi-warisan-sejarah-dan-budaya-di-aceh/, (diakses pada 1 Januari 2021)
Meltzer, D., Fowler D. dan Sabloff J. (Ed.). (1996). Contemporary Cultural Resource Management. Washington DC: Smithsonian Institution Press.
Mingju Liu. (2019). Study on the Development of Tourism Culture in Yunnan. 5th International Conference on Economics, Management, Law and Education (EMLE). doi:10.2991/aebmr.k.191225.150.
Mizuar Mehdi (2018). Transkrip Wawancara dengan Mizuar M di Banda Aceh, Pengetua MAPESA, 14 Julai 2018.
Mohammadreza Hajialikhani. (2008). A Systematic Stakeholders Management Approach for Protecting the Spirit of Cultural Heritage Sites ICOMOS 16th General Assembly and Scientific Symposium, Quebec.
Mykhnenko, V., & Turok, I. (2008). East European cities—patterns of growth and decline, 1960–2005. International Planning Studies, 13(4), 311-342.Truman Simanjuntak et al. (1999). Metode Penelitian Arkeologi. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.
Myrna Sukmaratri. (2018). Kajian Objek Wisata Sejarah Berdasarkan Kelayakan Lanskap Sejarah di Kota Palembang. Jurnal Planolog, 15(2), 164-179.
Pemerintah Indonesia (2010). Undang-undang Republik Indonesia Nombor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Lembaran Negara RI Tahun 2010 Nombor 130, Jakarta.
Pemerintah Indonesia. (2022). Peraturan Pemerintah Nombor 1 Tahun 2022 tentang Registrasi Nasional dan Pelestarian Cagar Budaya.
Rautenbach, C., Hart, D. dan Naudé, M. (2014). Heritage Resources Management. dalam Anél Du Plessis (Ed.). Enviromental Law and Local Government in South Africa.
The World Bank. (1999). Case Study: Fez, Morocco Rehabolitation of Fez Medina, Laporan, U.S.A.
The World Bank. (1999). Case Study: Fez, Morocco Rehabolitation of Fez Medina. Laporan. U.S.A.
Timothy, D. J. dan Nyaupane G. P. (Eds.). (2009). Cultural Heritage and Tourism in the Developing World: A Regional Perspective, New York: Routledge
UNESCO. (1972). Convention for the Protection of the World Cultural and Natural Heritage. Nombor 15511, Paris. Waspada/BNA/BPK dan Boy Nashruddin Agus (Ed.) (Feb 5, 2022). Pemerintah Lanjutkan Proyek IPAL di Kawasan Situs Gampong Pande, Achehinfo. https://www.acehinfo.id/pemerintah-lanjutkan-proyek-ipal-di-kawasan-situs-gampong-pande/, (diakses pada 3 Mac 2022).
Wawancara dengan Bambang Atmodjo, Kepala BPCB Aceh dan Sumatera di pejabat BPCB Aceh dan Sumatera, 27 Mac 2019. Wawancara dengan Yudi Andika, di Jabatan Perkhidmatan Kebudayaan dan Pelancongan Provinsi Aceh, Pegawai daripada Perkhidmatan Kebudayaan dan Pelancongan Provinsi Aceh bidang Muzium dan Pelestarian Cagar Budaya, 30 Januari 2019.
Wawancara dengan Mukhlis di Pejabat Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Banda Aceh, Pengetua Subbidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, 16 Mei 2019. Wawancara dengan Husaini Ibrahim di Jabatan Sejarah, Universiti Syiah Kuala, Banda Aceh, 21 Februari 2019. Wawancara dengan Mujiburrijal di Kafe Rumoh Aceh Banda Aceh, Pemilik Travel Musafir dan pendiri LSM Mapesa dan Peusaba, 15 Januari 2020. Wawancara dengan Masykur di Muzium Pedir, Pengetua Muzium Pedir dan juga Penyelidik bidang Numismatik di Mapesa, 19 Februari 2019.
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2024 Marduati Mukhtar

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.
How to Cite
Research impact
Harvested 2026-09-12Counts differ between services because each indexes a different body of literature. None of them is the whole picture.










